"Kekerasan yang terjadi adalah akibat dari kehidupan di bawah pemerintah dimana keadilan jarang ditegakkan dengan sebenarnya dan tanpa pandang bulu" (Thomas Stanford Raffles. History of Java)
Selama dua pekan terakhir, berita kekerasan tersiar silih berganti. Dengan pemberitaan yang gamblang dan terkadang ada unsur dramatisasi disana-sini. Kabar teranyar berasal dari Ibu Kota Negara. Rabu (29/09/2010), dua kelompok saling serang di jalan Ampera Raya, sekitar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Aksi kekerasan diduga terkait dengan persidangan kasus diskotik Blowfish. Aksi anarki itu merenggut tiga korban meninggal dan 12 orang terluka.
Jika dipikir-pikir, ko kekerasan seakan menjadi hal yang wajar ?. Apakah memang tabiat masyarakat yang masih didera berbagai krisis (sosial, kemanusiaan, dan krisis spiritual) seperti ini ?.
Indonesia yang majumuk secara objektif adalah anugerah yang patut disyukuri namun sekaligus harus diterima sebagai potensi yang bisa menyulut konflik yang berujung dengan aksi kekerasan. Perbedaan suku, agama, distribusi pembangunan yang timpang adalah bom waktu yang setiap saat siap meletus. Perbedaan-perbedaan tersebut dalam konteks bermasyarakat dan bernegara sebenarnya biasa saja selama tidak menggunakan jalur kekerassan untuk mencari jalan keluarnya.
Dalam beberapa kasus kekerasan yang terjadi, kita bisa melihat apakah kekerasan yang timbul karena faktor benturan budaya lokal, struktur/situasi politik atau bahkan faktor dampak dari percaturan global. Jika faktor-faktor pemicu kekerasan bisa didiagnosa dengan baik maka langkah penyelesaiannnya pun bisa ditempuh. Tindak kekerasan apabila tidak segera diselesaikan dikhawatirkan dapat berkembang lebih kompleks. Misal, kasus sampit yang sudah mengarah kepada primordialsime kedaerahan.
Sebagai bahan renungan, menarik sekali apa yang dikatakan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java bahwa kekerasan yang terjadi adalah akibat dari kehidupan di bawah pemerintah dimana keadilan jarang ditegakkan dengan sebenarnya dan tanpa pandang bulu.
Oleh karena itu, dalam menentukan langkah penyelesaian berbagai tindak kekerasan yang ada, perlu dicermati dan dianalisis, tidak saja berdasarkan teori konflik universal dan pendekatan budaya lokal, tetapi masing-masing dari kita perlu juga untuk mengevaluasi, jangan-jangan kita justru telah menanamkan benih –benih kekerasan di sekitar kita. Wallahu’alam.
Kamis, 30 September 2010
Kekerasan di Sekitar Kita
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Komentar :
Posting Komentar