Namanya Siti Khoiriyah. Usianya masih berbilang belia, 4 tahun. Usia empat tahun dalam dunia psikologi adalah usia emas. Otak berkembang begitu cepat. Informasi apapun akan diserap, tanpa melihat baik atau buruk. Maka tak heran jika para orangtua memiliki perhatian penuh di masa-masa ini. Itu juga yang dilakukan Sumariah. Naluri keibuannya harus memaksa dia mengikutserakan Siti Khoiriyah. Duduk di atas gerobak, menjajakan bakso dan menyelusuri jalan-jalan.
Senin (11/5) adalah hari dimana Siti dan Sumariah menggantang harapan. Seperti orang kebanyakan. Seberapa jauh gerobak bakso berjalan, sejauh itu pulalah daya Sumariah menyambung kehidupan. Karena nun di Sampang sana. Ada kerabat yang selalu berharap Sumariah dan Siti Khoiriyah kembali berkumpul dan berbagi suka.
Namun, bagi Sumariah, Senin itu adalah hari dimana langit seakan runtuh, gedung-gedung berkejaran menghimpit tubuhnya. Sumariah harus berlari, keluar dari horror labirin. Boulevard mendadak bak medan kiamat. Detak jantung berdegup kencang. Ketika Sumariah beradu tatap dengan petugas satpol PP dalam jarak yang tidak berjauhan. Ini artinya celaka dua belas!
Satpol PP yang dalam setiap menjalankan perintah "atasan" bertindak beringas membuat Sumariah dan yang lainnya kocar kacir. Hingga akhirnya, gerobak oleng, Siti Khoriyah terjungkal dan sekujur badannya tersiram. Siti Khoiriyah dilarikan ke RSUD Dr Soetomo. Namun malang, ia tak terselamatkan. Siti Khoriyah telah memasuki ujung lembar kehidupan. Sumariah sadar betul bahwa lembar hidup putrinya tidak begitu berwarna. Sumariah menghadiahkan teddy bear yang ia beli dari Pasar Karang Menjangan. Siti Khoriyah meninggal dengan teddy bear di samping kuburan.
Agresivitas Satpol PP
Masyarakat selama ini memandang satpol PP layaknya perwujudan militer pada sosok warga sipil. Tidak jarang satuan ini bertindak begitu agresif dan berlebihan yang pada akhirnya menimbulkan korban luka bahkan tewas. Kasus Siti Khoiriyah bukanlah hal baru dari dampak penertiban yang dilakukan. Beberapa kasus sebelumnya telah sama-sama kita saksikan di berbagai media. Di permulaan tahun 2007, Irvan Maulana yang berusia 14 tahun, joki 3 in 1 tewas diduga karena dianiaya petugas Satpol PP DKI Jakarta. Lalu di pertengahan Mei 2009, dipinggiran Ibukota, seorang pekerja seks komersial di Kota Tangerang bernama Fifi, tenggelam lalu tewas di Sungai Cisadane. Ia berusaha melarikan diri saat dikejar petugas Satpol PP Kota Tangerang.
Melihat fenomena seperti ini, saya khawatir pola pendekatan berupa kekerasan seperti yang diperagakan satpol PP adalah bagian dari karakter sosial yang dibentuk secara kultural dalam sebuah institusi. Seperti yang pernah disampaikan Erich Fromm di dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness, bahwa kekerasan dan agresivitas bukanlah merupakan satu sifat yang berdiri sendiri. satpol PP sebagai unsur dalam mewujudkan ketertiban dan ketenteraman masyarakat sejatinya sangat dibutuhkan. Apalagi jika satpol PP mampu bersikap ramah terhadap masyarakat yang memerlukan perlindungan atau jaminan keamanan. Hal ini menjadi penting karena masyarakat sudah memiliki persepsi bahwa satpol PP adalah satuan yang berisi orang-orang berwatak kasar. Kita tentunya merindukan sosok satpol PP yang memiliki kepribadian yang ramah disamping menguasai psikologi massa sehingga kasus meninggalnya Siti Khoriyah tidak terulang kembali. Semoga. ***
Oleh: Zaki Nabiha
Dimuat di Banten Raya Post, Rabu, 27 Mei 2009
Kamis, 28 Mei 2009
Adakah Satpol PP yang Ramah ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Komentar :
Posting Komentar