Kamis, 28 Mei 2009

Politik dan Desakralisasi Kematian

Maka kenyataan itu terpampang. Terbuka lebar dalam lembar-lembar halaman surat kabar. Silih berganti menyajikan yang teranyar. Adalah babad percintaan segi tiga yang lamat-lamat mulai terkuak. Menu utama perbincangan, untuk sementara. Seperti kisah cinta dalam Pararaton, Ken Arok yang kesengsem Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Kisah kasih tragis, yang berakhir di ujung keris. Sebuah pembunuhan.

Drama percintaan yang rumit itu kini menjelma di zaman moderen. Ken Dedes abad millennium diperankan oleh Rhani. Gadis sederhana dengan penuh pesona. Nasarudin, dan Antasari berdada diantaranya. Dengan langgam yang nyaris sama. Asmara, nama baik, kekuasaan dan harga diri. Nasrudin tewas, diberondong timah panas yang keluar dari Revolver, senjata yang tidak kalah tuah-nya dengan keris Mpu Gandring.

Kematian Nasrudin sungguh mengemparkan. Apalagi nama besar Antasri berpusar didalamnya. Oleh para pengamat intelijen, kasus ini diduga tidak singular. Jalinan asmara hanya sekedar bumbu, agar renyah dikunyah oleh masyarakat luas. Ada kutub kekuatan yang mencoba menyandera KPK, institusi dimana Antasari sebagai punggawa. Sebuah konspirasi, serangan balik bagi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Seperti Mario Puzo, yang dalam setiap lembarnya mampu menghadirkan ketegangan. Nalar kita terkadang agak tulalit menerima fakta. Karena kita dipaksa meyelusuri fakta sejarah yang paradoks. Ketika peradaban kemanusiaan dirajut. Atas nama rekonsiliasi atau sejenisnya. Kita dibawa kembali ke zaman dimana nyawa manusia tidak lebih dari alat tukar sebuah Insentif. Insentif kekuasaan, kedudukan, nama besar dan Insentif politik. Mungkin, arwah Vito Corleone bergentayangan dan bersenyawa dengan mereka yang memiliki libido kekuasaan.

Kematian sejatinya adalah suatu keniscayaan. Dan, kita pun meyakini bersama bahwa kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kehadirannya sampai terpenuhi semua keinginan, ambisi dan cita-cita. Sungguh, kematian seperti yang diungkapkan Montaigne, merupakan sesuatu yang sakral, yang penuh nilai, yang disucikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan, jika dalam pemakaman trio bom Bali, masyarakat tumpah ruah, ada duka yang mendalam dikalangan pendukungnya.

Namun, bangsa ini sudah lama diajarkan bahwa kematian sebagaimana dikatakan Baudrillad di dalam Symbolic Exchange and Death, telah menjadi bagian dari pertukaran umum (general equivalence). Disebabkan karena cara berpikir masyarakat kebanyakan yang berpikir kalkulatif, seperti dikatakan Heidegger, ”kematian itu sendiri diekuivalensikan dengan kalkulasi keuntungan”. Dalam konteks kasus tewasnya
Direktur PT. PRB, telah terjadi suatu proses desakralisasi ketika ia berpusar dalam ranah politik. Ada kutub-kutub kekuatan tertentu yang merancang, mengutip keuntungan demi pelanggengan kekuasaan melalui pembunuhan yang mengakibatkan kematian.

Maka akan berbahaya jika kemudian politik dijadikan sebagai mesin kematian untuk meraih kekuasaan. Kita tentu masih ingat, demo rusuh pemekaran yang mengakibatkan tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara, Aziz Angkat.

Pembunuhan dalam teologi agama-agama samawi adalah sesuatu yang dikecam. Adalah perbuatan yang tidak beradab. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS. Al Maa-idah :32). Kini, Nasruddin telah tiada, ia akan memasuki kebahagiaan abadi untuk mendapatkan keadilan sejati. Semoga.

Oleh : Zaki Nabiha


Komentar :

ada 0 komentar ke “Politik dan Desakralisasi Kematian”

Posting Komentar

Follow Me

Arsip

 

© 2009 Fresh Template. Powered by Blogger.

Fresh Template by NdyTeeN