Kamis, 28 Mei 2009

Iklan Politik Kaum Kosmopolit

Kosmopolitan adalah kembar identik dari globalisasi. Sebagai tatanan hidup baru, individu (kosmopolit) memiliki keterbukaan terhadap nilai-nilai baru yang hilir mudik dalam pergaulan global. Nilai-nilai itu datang bergelombang dengan begitu ekstensif, menjangkau belahan benua putih hingga benua berwarna. Sehingga kecenderungan konvergensi dalam segala hal tak bisa terelakkan.

Dalam budaya pop atau komunitas ABG (Anak Baru Gede) misalnya, musik rock and roll yang semasa Presiden Soekarno dilarang di Indonesia, kini ibarat menjadi ”lagu kebangsaan”. Berpuluh-puluh genre dari musik ini berkawan karib ditelinga remaja. Mulai dari lagu legenda Imagine-nya The Beatle hingga aliran yang menggabungkan dari beberapa unsur, seperti hip hop-rock-etnik Kroncong Protal-nya Bondan, mantan penyanyi cilik dengan hit Si Lumba-lumba yang berkolaborasi dengan Fade to Black. Sungguh, era kosmopolit adalah era dimana something reachable menjadi sesuatu yang nyaris nilai probabilitasnya absolut.

Politik Warna Baru
Globalisasi sebagai sebuah proses multidimensional, pengaruhnya dalam aspek politik juga cukup besar. Di pengujung tahun ini, dunia begitu dikejutkan oleh kemenangan Obama atas McCain. Sebagai negara yang mengklaim dirinya sebagai “poros demokrasi” telah sukses menghelat sebuah hajat politik besar dengan kemasan yang penuh entertainment, yang mampu mengaduk-aduk emosinal berjuta-juta penduduk bumi.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana proses demokrasi di negeri Paman Sam tersebut menjadi begitu “hidup”. Diantaranya adalah pertama, kemampuan partai politik dalam “menjual” pasangan serta produk politik-nya. Sebuah marketing politik yang genuine. Kedua partai politik terutama kubu Demokrat mampu memahami apa yang sebenarnya dirasakan dan dihadapi public AS seperti kelesuan ekonomi, ancaman pengangguran masal, hinga sikap politik internasional yang absurd. Kemampuan memahami kondisi masyarakat ini menjadi hal yang penting karena inilah landasan awal dalam perumusan sebuah produk politik, yaitu kondisi faktual masyarakat, bukan ambisi partai politik itu sendiri. Sehinga slogan “Change, Yes We Can” Seakan bersenyawa dengan publik Amerika yang sudah muak dengan langkah politik konyol Mr. Bush Jr.

Lalu bagaimana dengan geliat perpolitikan di Indonesia ?. Ternyata, ekonomi kerakyatan masih jadi isu primadona. Semabako murah, pendidikan dan kesehatan gratis digarap dengan serius oleh Partai Hanura, Gerindra dan belum lama ini PDI-P yang oleh para pengamat dinilai cukup “konfrontatif”. Dalam dunia marketing, ketiga iklan partai politik tersebut bisa dikategorikan sebagai iklan politik yang bersifat sugestif yang berusaha mempengaruhi struktur preferensi publik. Sehingga dari beberapa hasil survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga menunjukkan trend tingkat popularitas ketiga partai tersebut terus naik.

Faktor lainnya adalah kemampuan partai politik untuk menawarkan produk politik yang memiliki nilai lebih atau setidak-tidaknya sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan partai politik lainnya. Contoh partai politik yang mewakilinya adalah PKS. Dengan tag iklan Kepahlawanan dan Guru Bangsa, partai dakwah ini menawarkan tema besar, “rekonsiliasi”. Walaupun oleh kalangan pengamat PKS telah melakukan “perjudian”, menentang mainstream. Karena di masa paceklik seperti ini, dimana pupuk langka, harga sembako serempak naik, ancaman PHK, bagi masyarakat urusan “nasi “ lebih penting daeipada “rekonsiliasi”.Gagasan “rekonsiliasi” PKS terkesan elitis, berbeda dengan ketiga iklan partai politik diatas yang langsung menggunakan bahasa dan terminologi yang langsung beririsan dengan “wong cilik”.

Pesan Politik
Iklan politik di dunia perpolitikan Indonesia memang dalam perkembangnnya belum seperti negara-negara yang sudah lama melakukan aktivitas perpolitikan seperti ini. Seperti di AS atau Inggris dimana partai politik sudah bisa diidentifikasi dari produk politik yang tampilkan melalui marketing politik. Dalam sejarah, seperti yang dikemukakan oleh Dominic Wring dalam 'Political Marketing and Party Development in Britain: A "Secret" History', bahwa partai-partai politik di Inggris sudah melakukan marketing politik sejak lama. Partai Konservatif dalam Pemilu 1929 adalah partai politik pertama yang menggunakan biro iklan (Holford- Bottomley Adevertising Service) dalam membuat disain dan pendistribusian poster dan pamflet. Dan pada tahun 1979, atas jasa agen Saatchi dan Saatchi yang berperan menciptakan slogan “Labour Isn’t Working”. Slogan ini mampu mempengaruhi tingkat kepercayaan masa partai Buruh sehingga pesan yang disampaikan melalui slogan tersebut berhasil menghantarkan Partai Konservatif sebagai “pemenang” Pemilu.

Pesan dalam iklan politik sejatinya adalah ruh partai. Sehingga pesan yang tertuang dalam iklan politik setali tiga uang dengan platform dan ideologi. Untuk itu dalam merumuskan konsep marketing politik, Firmanzah dalam bukunya Marketing Politik memberikan rambu bahwa partai politik seyogyanya memposisikan pemilih sebagai subjek, bukan objek, dan permasalahan yang dihadapi pemilih dijadikan sebagai langkah awal dalam menyusun program kerja yang ditawarkan dengan bingkai ideologi masing-masing partai karena partai politik memiliki konfigurasi ideologi dan aliran pemikiran yang berbeda.

Akhirnya di tahun 2009, kita akan menantikan Iklan-iklan politik yang tidak saja mengandalkan simbol figuritas sebagai komoditas tapi iklan politik yang mengandung pesan yang mudah dipahami secara substansi hasil dari kristalisasi ideologi bukan hasil “politik transaski”. Semoga.

Zaki Nabiha
Dimuat di Harian Banten Raya Post, 24 Desember 2008

Komentar :

ada 0 komentar ke “Iklan Politik Kaum Kosmopolit”

Posting Komentar

Follow Me

Arsip

 

© 2009 Fresh Template. Powered by Blogger.

Fresh Template by NdyTeeN