
Pernah mendapatkan pesan seperti ini ?. “Awas !. Ini rahasia lho. Hanya kita berdua saja yang tahu”. Atau bahkan anda sendiri yang memberikan pesan itu ?. Hmmm...tidak perlu dijawab. Itu adalah rahasia anda.
Rahasia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang atau pihak lain. Sehingga saking rahasianya segala cara dilakukan untuk menjamin kerahasiaan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kata-kata atau sandi terntu yang tentu saja hanya bisa dimengerti oleh orang-orang atau pihak yang berkepentingan terhadap rahasia tersebut.
Dalam dunia intelijen atau peperangan sandi kerap kali digunakan untuk mengecoh dan mengelabui pihak lawan yang ingin mencuri atau meretas informasi penting yang tentu saja sifatnya sangat amat teramat rahasia sekali (lebay ah). Kemampuan dalam penguasaan informasi terlebih dalam dunia intelijen dan dalam situasi peperangan adalah tiket menuju kemenangan. Seperti apa yang dikatakan Alvin Toffler, penulis buku Gelombang Ketiga, Toffler mengatakan bahwa siapa saja yang lebih dulu menguasai informasi maka dialah yang lebih dulu menguasai dunia.
Dari Alvin Toffler kita beralih ke Windtalkers. Windtalkers bukan penulis buku tapi salah satu judul film. Apakah anda pernah menonton Windtalkers ?. Sudah atau belum jawaban anda, lagi-lagi biarlah itu menjadi rahasia anda.
Windtalkers, film berlatar Perang Dunia II antara Amerika dan Jepang ini adalah salah satu film kesukaan saya. Yang menarik bagi saya dari film ini bukanlah karena aktor utamanya, Nicolas Cage atau adegan tembak-tembakan, suara bom yang bergemuruh dan peluru-peluru yang dimuntahkan dari senapan. Bagi saya, pemilihan dan proses encoding dan decoding pesan yang menggunakan bahasa Indian dari suku Navajolah yang membuat film ini cukup menarik. Bagaimana Ben Yahzee yang diperankan oleh Adam Beach, salah satu pemuda dari Suku Navajo yang ditugaskan sebagai encoder dari bahasa Inggris ke bahasa Navajo, dalam suasana yang berkecamuk mampu mengirim pesan yang efektif kepada rekannya yang bernama Whitehorse yang bertugas melakukan decoding dari bahasa Navajo ke bahasa Inggris di markas kendali. Dengan cara seperti ini, tentara Jepang tidak mampu memahami bahasa yang digunakan duo Navajo tersebut walaupun frekuensi radio milik Amerika tertangkap oleh tentara Jepang. Singkat kata, tujuan penggunaan sandi atau pesan rahasia oleh duo Navajo itu berhasil dan tidak bisa diretas oleh pihak luar.
Ternyata sandi dan pesan rahasia bukan hanya konsumsi para intelijen dan talkcoder semata. Di dunia kriminal, penggunaan sandi dan kata-kata rahasia menjadi sarana utama mereka untuk mencapai tujuannya. Pernah dengar nama-nama seperti Anggodo Widjojo, Ong Yuliana Gunawan ?. Kedua nama itu terkenal ketika rekaman percakapan mereka yang disadap, diputar dipersidangan MK ketika kasus Cicak Vs Buaya mencuat. Dalam percakapan itu ditemukan beberapa kata sandi untuk mengkamuflasekan maksud tertentu. Seperti kata durian yang disebut beberapa kali. Durian sendiri diidentikan sebagai imbalan atau uang terima kasih kepada seseorang yang dalam konteks kasus itu adalah AH. Ritonga, mantan Wakil Jaksa Agung. Belum cukup disitu. Selain Durian, nama buah yang digunakan sebagai sandi adalah Apel. Seperti yang terungkap dalam kasus yang sekarang sedang hangat-hangatnya, Wisma Atlet. Nama-nama besar dari partai politik pemenang Pemilu 2009 cukup santer disebut-sebut dalam kasus ini. Dan yang lebih menarik lagi diantaranya adalah penggunaan kata apel Malang dan apel Washington yang kemudian apel Malang diidentikkan sebagai uang rupiah dan apel Washington untuk uang dollar.
Satu hal yang mungkin tidak disadari oleh mereka yang tersangkut dalam kasus tersebut adalah bahwa ruang privat dalam era digital sekarang ini praktis tidak ada. Sehingga jika mengandalkan cara-cara konvensional bisa dipastikan mereka sial. Pesan atau informasi yang disampaikan melalui Short Message Service (SMS), electronic mail (e-mail) bahkan Blackberry Messenger (BBM) pun bisa diketahui bukan saja oleh si penerima pesan tersebut tapi juga oleh pihak operator. Karenanya, dalam hal ini saya mendukung langkah Keminfo yang mendesak pihak RIM selaku operator Blackberry agar mendirikan servernya di Indonesia sekaligus memiliki fasilitasi akses Lawful Interception (penyadapan) bagi penegak hukum.
Satu hal yang hampir terlupakan. Sandi atau kata-kata rahasia juga banyak digunakan oleh para pasangan suami isteri sebagai cara komunikasi langsung yang dijamin tidak bisa disadap atau diretas oleh anak-anaknya. Seperti apa sandi itu ? Cukup anda dan istri anda saja yang tahu.
Selengkapnya...
Kamis, 15 Desember 2011
Pesona Durian dan Apel Washington
Rabu, 07 Desember 2011
Kaum Pria Enggan Memiliki Rekening Gemuk

Memiliki badan gemuk bagi kebanyakan orang tentu bukanlah suatu kebanggaan. Biasanya orang-orang yang berukuran badan jauh diatas rata-rata berupaya dengan berbagai cara agar lingkar pinggang dan kandungan lemak ditubuhnya berangsur turun. Tidak sedikit produk minuman dan makanan yang mengklaim rendah lemak bahkan sesumbar mampu menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Belum lagi aneka paket perawatan tubuh dan peralatan kesehatan yang mengepung mereka dengan janji-janji manisnya.
Singkat kata, berbadan gemuk itu menyandera penampilan dan bahkan kesehatan karena menurut medis, orang gemuk itu rawan akan penyakit seperti jantung, stroke, diabetes, beberapa jenis kanker, dan gout . Waduh !.
Pertanyannya kemudian, maukah anda berbadan gemuk ?. Jika pertanyaan ini dialamatkan kepada sepuluh wanita. Saya yakin sembilan dari sepuluh wanita tersebut akan menjawab “TIDAK” dan yang satunya mengeleng-gelengkan kepala. Tapi jika pertanyaannya dimodifikasi seperti ini, “maukah rekening anda gemuk ?”. Saya yakin kesepuluh kaum hawa itu akan serempak menjawab “IYA” sekaligus mengangguk-anggukan kepala dan mengacungkan kedua jempol mereka. Ho ho ho....
Lho, ko pertannyaanya hanya diajukan ke wanita saja !. Memang para bapak-bapak tidak mau memiliki rekening gemuk apa ?.
Dari hasil pengamatan dan wawancara “kecil-kecilan” saya ke beberapa kaum pria dengan rentang usia diantara 25 sampai 35 tahun, hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata kaum pria enggan memiliki rekening gemuk dengan beberapa alasan. Kaum pria tidak berekspektasi tinggi untuk memiliki rekening gemuk namun mereka mengingnkan rekening yang gembrot sekali. Menurut mereka memiliki rekening gembrot adalah sesuatu banget. Wah....!
Rekening gemuk kembali mencuat setelah PPATK menemukan banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) berusia muda memiliki rekening 'gemuk' bernilai miliaran rupiah. Sepengetahuan saya “miliar” itu angka nol-nya ada sembilan. Misal, 1 Milyar rupiah maka penulisannya adalah Rp. 1.000.000.000,- . Angka yang asing bagi buku rekening saya....Hmmm curhat session.
Sebelum prahara rekening gemuk pns muda, kasus rekening gemuk juga pernah melanda beberapa perwira tinggi Polri. Terkait hal ini, Abraham Samad, Ketua KPK terpilih saat fit and proper test di Komisi III DPR RI mengatakan bahwa kasus rekening gendut yang melibatkan para perwira tinggi Polri harus ditangani jika penyidik memiliki cukup bukti. Go.. go Bang Samad !.
Dari dua kasus tersebut, PNS muda dan Pati Polri yang sama-sama memiliki rekening gemuk menurut “penerawangan” saya dari hasil membaca dan mengikuti analisis para pengamat, saya melihat mereka bermain tidak sendirian dalam merampok uang rakyat. Ada sindikat jika tidak mau disebut sebagai mafia PNS Muda, setelah mafia pajak, mafia hukum dan mafia pemilu. Wiiih, syerem. Dan sebagaimana lazimnya sebuah sindikat, bisa jadi ada back up atau semacam perlindungan, entah dari atasan atau kekuatan lain diluar orbitnya.
Jika alasan mengapa para PNS muda dan Pati Polri itu melakukan tindakan melawan hukum karena pendapatannya sebagai pegawai negara tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, tentu hal itu tidak bisa kita terima. Jumlah uang dalam miliaran itu tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup si PNS muda tapi bisa membuat sekolah-sekolah baru, membayar biaya berobat warga miskin. Membangun jembatan yang terputus banjir. Bukan memenuhi lambung si tuab PNS muda. Yang jelas, tidak ada alasan bagi mereka untuk menilap uang negara.
Ada lagu, judulnya Doa, lagunya Bang Iwan yang cukup inspiratif. Dalam setiap rangkaian katanya ada energi positif dan ajakan persuasif. Berikut petikannya,
Berdoalah
Sambil berusaha
Agar hidup jadi tak sia sia
Badan sehat
Jiwa sehat
Hanya itu yang kami mau
Hidup berkah
Penuh gairah
Mudah mudahan ALLAH setuju
Mestinya beginilah sikap seorang PNS muda. Tidak neko-neko apalagi sok bergaya sosialita.... ke laut aja kali yaaa...
Lembah Hijau, Ciloto, 8 Desember 2011
Selengkapnya...
Selasa, 15 November 2011
Penguasa dan Rakyat Yang Putus Asa

Setelah tiga belas tahun pasca reformasi, bangsa ini dalam penilaian para akademisi dan pengamat sebenarnya sudah berada “on the track”. Namun faktanya, kehidupan kian hari kian berat. Harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik membuat daya beli masyarakat rendah. Ini mungkin dampak dari kebijakan liberalisasi yang dilakukan yang terjadi hampir disemua lini.
Dalam landscape politik lain lagi ceritanya, desentralisasi kekuasaan sebagai salah satu tuntutan reformasi yang dimanifestasikan dalam bentuk otonomi daerah justru menjadi sebuah paradoks. Pola hubungan kekuasaan di daerah-daerah sekarang cenderung terkonsentrasi di tangan sekelompok elit bahkan di daerah tertentu dikuasi oleh satu rumpun keluarga. Akibatnya, terjadi oligarki pemerintahan di daerah. Maka menjadi pertanyaan, apa bedanya Orde Reformasi dengan Orde-orde sebelumnya ?
Reformasi memang tidak bisa menjawab semua persoalan yang melilit bangsa ini secara instan. Walaupun sudah tiga kali kepemimpinan berganti. Bangsa ini seakan meliuk dan berputar-putar dalam labirin panjang permasalahan. Tidak aneh kiranya jika romantisme kehidupan orde baru yang “adem ayem”, oleh kalangan tertentu kembali dikonstruksikan. Kehidupan berbangsa yang nyaris tanpa “gejolak”.
Kaleidoskop perjalanan rezim kepemimpinan oleh Indobarometer dikaji dalam sebuah survey. Dan hasilnya sungguh diluar perkiraan. Survey yang dilakukan Indobarometer di bulan April hingga Mei tahun 2011 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat (sekitar 40,9%) menganggap Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi sekarang ini. Hasil ini merupakan pukulan bagi semua pihak yang menganggap Reformasi sebagai momentum perubahan dari kondisi yang buruk ke kondisi yang lebih baik. Pararel dengan hal itu adalah, dari 6 Presiden yang telah memimpin Indonesia, masyarakat menganggap (40,5%) Soeharto dianggap paling berhasil, disusul SBY (21,9%), dan Soekarno (8,9%).
Walau bagaimana pun, Soeharto sebagai icon Orde Baru harus kita akui kerja kerasnya dalam bidang ekonomi. Dalam pengamatan Dr. Hal Hill, seorang ekonom senior dari Australia's National University (ANU), selama 32 tahun Soeharto telah menghasilkan pembangunan ekonomi yang luar biasa (divided legacy). Masih menurut Hill, pembangunan ekonomi yang dilakukan Soeharto sebelum tahun 1990-an begitu impresif. Namun sayangnya, citra positif di bidang pembangunan itu tidak sejalan dengan penegakan hukum, hak asasi manusia dan sistem demokrasi yang sehat. Selain campur tangan keluarga kroni dan konglomerasi yang pada akhirnya justru menyebabkan Soeharto tumbang di tengah jalan.
Nilai Intrinsik Pemimpin
Secara universal, salah satu kriteria pemimpin yang didambakan masyarakat luas sebenarnya sederhana. Seorang pemimpin itu harus jujur. Masyarakat tidak membutuhkan rangkaian gelar akademis atau yang lainnya. Karenanya dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW.: “Tiga golongan, Allah tidak akan berbicara, mensucikan dan melihat kepada mereka, dan bagi merekalah siksa yang pedih; orang tua pezina, pemimpin yang suka bohong dan orang miskin yang sombong”. (HR. Muslim).
Banyaknya pemimpin-pemimpin yang berujung di jeruji besi pangkalnya tidak lain karena ketidakjujuran mereka. Oleh karen itu ketika relasi kedaulatan di Orde Reformasi bergeser dimana kedaulatan masyarakat lebih kuat (strong society) sementara negara terlalu “lemah” (weak state), maka inilah saat yang tepat untuk mengawasi dan mengontrol mereka. Apalagi ditambah terjadi pergeseran yang cukup massif dari gaya politik yang hampir dipertontonkan oleh hamipr sebagian besar kekuatan politik dimana ‘politik fisik’ (physical politics) secara perlahan bergerak ke arah ‘politik citra’ (politics of image). Sedangkan ‘politik citra’ sendiri membutuhkan resources yang cukup besar terutama financial. Dan ketika sebuah kekuatan politik terlalu berlama-lama bermesraan dengan ‘politik citra’ kemungkinan untuk mengutip uang rakyat cukup besar. Jika hal ini terjadi, maka seperti apa yang dituliskan Wiji Thukul dalam salah satu puisinya,
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
Wallahu A'lam Bis-shawab
Selengkapnya...

