Selasa, 15 November 2011

Penguasa dan Rakyat Yang Putus Asa


Setelah tiga belas tahun pasca reformasi, bangsa ini dalam penilaian para akademisi dan pengamat sebenarnya sudah berada “on the track”. Namun faktanya, kehidupan kian hari kian berat. Harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik membuat daya beli masyarakat rendah. Ini mungkin dampak dari kebijakan liberalisasi yang dilakukan yang terjadi hampir disemua lini.

Dalam landscape politik lain lagi ceritanya, desentralisasi kekuasaan sebagai salah satu tuntutan reformasi yang dimanifestasikan dalam bentuk otonomi daerah justru menjadi sebuah paradoks. Pola hubungan kekuasaan di daerah-daerah sekarang cenderung terkonsentrasi di tangan sekelompok elit bahkan di daerah tertentu dikuasi oleh satu rumpun keluarga. Akibatnya, terjadi oligarki pemerintahan di daerah. Maka menjadi pertanyaan, apa bedanya Orde Reformasi dengan Orde-orde sebelumnya ?

Reformasi memang tidak bisa menjawab semua persoalan yang melilit bangsa ini secara instan. Walaupun sudah tiga kali kepemimpinan berganti. Bangsa ini seakan meliuk dan berputar-putar dalam labirin panjang permasalahan. Tidak aneh kiranya jika romantisme kehidupan orde baru yang “adem ayem”, oleh kalangan tertentu kembali dikonstruksikan. Kehidupan berbangsa yang nyaris tanpa “gejolak”.

Kaleidoskop perjalanan rezim kepemimpinan oleh Indobarometer dikaji dalam sebuah survey. Dan hasilnya sungguh diluar perkiraan. Survey yang dilakukan Indobarometer di bulan April hingga Mei tahun 2011 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat (sekitar 40,9%) menganggap Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi sekarang ini. Hasil ini merupakan pukulan bagi semua pihak yang menganggap Reformasi sebagai momentum perubahan dari kondisi yang buruk ke kondisi yang lebih baik. Pararel dengan hal itu adalah, dari 6 Presiden yang telah memimpin Indonesia, masyarakat menganggap (40,5%) Soeharto dianggap paling berhasil, disusul SBY (21,9%), dan Soekarno (8,9%).

Walau bagaimana pun, Soeharto sebagai icon Orde Baru harus kita akui kerja kerasnya dalam bidang ekonomi. Dalam pengamatan Dr. Hal Hill, seorang ekonom senior dari Australia's National University (ANU), selama 32 tahun Soeharto telah menghasilkan pembangunan ekonomi yang luar biasa (divided legacy). Masih menurut Hill, pembangunan ekonomi yang dilakukan Soeharto sebelum tahun 1990-an begitu impresif. Namun sayangnya, citra positif di bidang pembangunan itu tidak sejalan dengan penegakan hukum, hak asasi manusia dan sistem demokrasi yang sehat. Selain campur tangan keluarga kroni dan konglomerasi yang pada akhirnya justru menyebabkan Soeharto tumbang di tengah jalan.

Nilai Intrinsik Pemimpin
Secara universal, salah satu kriteria pemimpin yang didambakan masyarakat luas sebenarnya sederhana. Seorang pemimpin itu harus jujur. Masyarakat tidak membutuhkan rangkaian gelar akademis atau yang lainnya. Karenanya dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW.: “Tiga golongan, Allah tidak akan berbicara, mensucikan dan melihat kepada mereka, dan bagi merekalah siksa yang pedih; orang tua pezina, pemimpin yang suka bohong dan orang miskin yang sombong”. (HR. Muslim).

Banyaknya pemimpin-pemimpin yang berujung di jeruji besi pangkalnya tidak lain karena ketidakjujuran mereka. Oleh karen itu ketika relasi kedaulatan di Orde Reformasi bergeser dimana kedaulatan masyarakat lebih kuat (strong society) sementara negara terlalu “lemah” (weak state), maka inilah saat yang tepat untuk mengawasi dan mengontrol mereka. Apalagi ditambah terjadi pergeseran yang cukup massif dari gaya politik yang hampir dipertontonkan oleh hamipr sebagian besar kekuatan politik dimana ‘politik fisik’ (physical politics) secara perlahan bergerak ke arah ‘politik citra’ (politics of image). Sedangkan ‘politik citra’ sendiri membutuhkan resources yang cukup besar terutama financial. Dan ketika sebuah kekuatan politik terlalu berlama-lama bermesraan dengan ‘politik citra’ kemungkinan untuk mengutip uang rakyat cukup besar. Jika hal ini terjadi, maka seperti apa yang dituliskan Wiji Thukul dalam salah satu puisinya,

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa


Wallahu A'lam Bis-shawab


Komentar :

ada 0 komentar ke “Penguasa dan Rakyat Yang Putus Asa”

Posting Komentar

Follow Me

Arsip

 

© 2009 Fresh Template. Powered by Blogger.

Fresh Template by NdyTeeN