
Berbicara segala sesuatu yang berkonotasi muda di republik ini memang menarik. Walaupun jika kata muda disandingkan dengan kata-kata tertentu mengalami pergeseran makna ke kutub yang cenderung negatif cita rasanya. Pergeseran kata atau dalam kaidah linguistik disebut peyorasi itu bisa terjadi karena beberapa hal, misalnya karena pengaruh perkembangan sosial budaya, perbedaan tanggapan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seperti kata muda. Muda dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki makna belum sampai setengah umur. Kemudian berkembang maknanya ketika kata “muda” disandingkan dengan kata yang lain. Seperti frasa “istri muda” pada judul diatas. Kata “muda” pada frasa “istri muda” dalam kedudukannya memiliki makna “yang kedua”. Lantas bagaimana kedudukan istri yang ketiga terhadap istri yang pertama ?. Apakah masih bisa disebut sebagai istri muda ?. Dan seterusnya.
Pada dimensi yang lain, istri muda walaupun secara hukum positif dan agama dinyatakan sah akan tetapi dalam kesehariannya masyarakat luas tidak sepenuhnya menerima “bulat-bulat akan keberadan istri muda. Stigma sebagai wanita simpanan dan perebut suami orang masih begitu melekat di setiap benak masyarakat. Padahal tidak semua istri muda berkelakuan seperti apa yang dipersepsikan.
Lalu apa hubungannya antara istri muda dan garuda muda ?. Memang tidak ada hubungannya. Tapi setidak-tidaknya walaupun terasa dipaksakan, kedua frasa yang masing-masing tersanding kata “muda” bisa dijadikan objek perbandingan yang sederhana atau sekedar sensasi si penulisnya saja.
Garuda Muda disini jelas tidak mengalami nasib seperti “istri muda” yang sudah sedikit dibahas diawal. Garuda Muda adalah sebutan bagi pemain tim nasional sepak bola U-23 yang dimotori oleh Egi Melgiansyah pada SEA Games ke 26. Kemenangan besar atas Kamboja pada senin (7/11/2011) yang mencukur tim besutan Lee Tae Hoon dengan skor 6-0 tanpa balas, kemudian menang 2-0 atas Singapura (11/11/2011) dan kemenangan dramatis 2-1 (13/11/2011) atas Thailand 2-1 yang dikenal sebagai kekuatan tradisional Asia Tenggara bisa diibaratkan seperti setetes embun di sahara. Tamsil tersebut tentunya tidak berlebihan jika melihat torehan prestasi sepakbola kita dalam kurun waktu delapan tahun ke belakang. Di kawasan Asia Tenggara, prestasi Tim Garuda yang bisa dibanggakan adalah sebagai Runner-up tahun 2002 pada Tigers Cup sekarang piala AFF. Selebihnya Tim Garuda puasa juara.
Tentu tidak menjadi beban berat bagi Tim Garuda Muda sekiranya kita berharap setelah seniornya terbata-bata untuk melafalkan kata juara. Kemarau juara yang cukup lama mudah-mudahan berganti hujan juara seperti peralihan musim yang sekarang ini kita alami. Jadi, marilah kita dukung dan berharap kepada istri muda...maaf, maksudnya Garuda Muda.
Selengkapnya...
Senin, 14 November 2011
Antara Istri Muda dan Garuda Muda
Selasa, 08 November 2011
Pahlawan Itu Bernama Ibu
Ada banyak pahlawan di sekitar kita. Di rumah, di sekolah. Di mana saja. Pahlawan dengan dunianya. Itu juga jika anda setuju dengan definisi pahlawan yang tidak terlalu miopik.
Di rumah misalnya, ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Pahlawan dengan segala pengorbanannya. Tidak aneh kiranya jika anak-anak saling membanggakan kedua orang tuanya terutama ibunya masing-masing. Karenanya Nabi Muhammad Saw, seorang piatu sejak lahir begitu mengistimewakan seorang ibu, seperti dalam salah satu hadits, "Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Rasulullah menjawab,"Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Orang itu mengulangi pertanyaannya: "Kemudian siapa lagi?" Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: "Ibumu." Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab: "Bapakmu." (HR Bukhari Muslim).
Kecintaan seorang ibu tidak luntur manakala melihat anak-anaknya beranjak dewasa. Memulai hidup baru dengan pasangannya. Walaupun dimakan usia, memori seorang ibu sangat terjaga. Seorang ibu selalu ingat bagaimana kedua tangan yang senantiasa memandikan anak-anaknya dikala pagi dan petang. Matanya yang selalu terjaga ketika panas dan demam mendera anak-anaknya. Menceritakan kisah epik kepahlawanan yang entah berapa kali ia bacakan sebagai pengantar tidur dipengujung malam.
Nilai-nilai kepahlawanan seperti itulah yang dapat dengan mudah kita temukan di rumah. Nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan dan kejujuran. Dengan segala upaya terbaik yang telah dilakukan oleh seorang ibu tentunya kita tidak mau menjadi anak-anak yang zhalim kepadanya. Kita semua berharap terhindar dari kesulitan-kesulitan karena secuil kesalahan yang kita lakukan terhadap ibu kita sendiri. Seperti disebutkan dalam sebuah kisah, bagaimana seorang sahabat yang bernama al-Qomah mengalami kesulitan ketika sakaratul maut. Al-Qomah menghadapi masalah besar, seolah Malaikat mempermainkan nyawanya. Atas kejadian itu, Nabi Muhammad Saw kemudian memanggil ibunya agar ia mau datang menemui dan memaafkan kesalahan yang dilakukan al-Qomah. Setelah sang ibu menemui dan memaafkan, maka lancarlah kematian al-Qomah.
Tanpa kita sadari, seorang ibu sebenarnya sedang mempersiapkan kita semua untuk menjadi penerusnya. Menjadi pahlawan bagi anak-anak kita kelak. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan dan cita-cita besar itu. Menjadi pahlawan yang akan selalu dikenang. Mulailah dengan memohon maaf atas segala kesalahan kepada kedua orang tua kita, selanjutnya adalah menjaga agar ibu tetap selalu tersenyum.
Mengenang almarhumah Hj. Hafsah, setelah 11 tahun mendahului ke tujuh anaknya, seorang ibu yang luar biasa. Allahummaghfirlaha wa ‘afiha wa’fu ‘anha wa akrim nuzulaha wa wassi’ madkhalaha waj’ali al-jannata maswaha
Selengkapnya...
Berhenti Itu Mati
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang- orang yang sabar”.
(QS Al-Baqarah [2]: 153)
Bersyukurlah bagi para suami yang sudah beristri (tentunya yang sah) terutama yang sudah memiliki anak, lebih khusus lagi yang memiliki kesempatan mendampingi istrinya ketika melahirkan. Para suami akan mendapatkan hikmah tentang makna kesabaran yang hakiki ketika menyaksikan istrinya berjuang dengan sekuat tenaga (bahkan nyawa) demi menghantarkan sang buah hati ke alam dunia.
Itulah sabar. Sebuah proses panjang yang penuh dengan ujian. Karena sabar adalah sebuah proses maka tidak ada istilah berhenti ditengah jalan. Sebagaimana seorang ibu yang mengalami prosesi melahirkan, tentunya ia tidak berhenti menghimpun tenaga sembari bermunajat kepada Allah Yang Maha Kuasa sampai tangis bayi terdengar di telinga.
Maka salah satu tabiat para Shabirin (orang-orang sabar) adalah mereka tidak sedetikpun menghentikan aktivitasnya dalam kerangka dzikrullah. Apakah aktivitas hati maupun aktivitas kelima indera. Para Shabirin sadar betul ketika ternyata jalan yang ditempuh itu panjang dan berkelok dan hanya ada satu kekuatan yang mampu memberikan kekuatan hingga sampai ke tujuan maka tiada lagi ruang dihatinya selain Allah Swt. Itulah sebabnya para ibu sering dianjurkan bertasbih, bertakbir menyebut asma-asma Allah Swt ketika dalam logika manusia sang ibu sudah tak berdaya.
Dari uraian singkat diatas, bisa disimpulkan bahwa sisi-sisi spiritualitas adalah mesin penggerak para shabirin dalam mengarungi segala ujian yang ditemukan dijalan hingga selamat sampai tujuan.
Selengkapnya...

