Ada banyak pahlawan di sekitar kita. Di rumah, di sekolah. Di mana saja. Pahlawan dengan dunianya. Itu juga jika anda setuju dengan definisi pahlawan yang tidak terlalu miopik.
Di rumah misalnya, ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Pahlawan dengan segala pengorbanannya. Tidak aneh kiranya jika anak-anak saling membanggakan kedua orang tuanya terutama ibunya masing-masing. Karenanya Nabi Muhammad Saw, seorang piatu sejak lahir begitu mengistimewakan seorang ibu, seperti dalam salah satu hadits, "Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Rasulullah menjawab,"Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Orang itu mengulangi pertanyaannya: "Kemudian siapa lagi?" Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: "Ibumu." Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab: "Bapakmu." (HR Bukhari Muslim).
Kecintaan seorang ibu tidak luntur manakala melihat anak-anaknya beranjak dewasa. Memulai hidup baru dengan pasangannya. Walaupun dimakan usia, memori seorang ibu sangat terjaga. Seorang ibu selalu ingat bagaimana kedua tangan yang senantiasa memandikan anak-anaknya dikala pagi dan petang. Matanya yang selalu terjaga ketika panas dan demam mendera anak-anaknya. Menceritakan kisah epik kepahlawanan yang entah berapa kali ia bacakan sebagai pengantar tidur dipengujung malam.
Nilai-nilai kepahlawanan seperti itulah yang dapat dengan mudah kita temukan di rumah. Nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan dan kejujuran. Dengan segala upaya terbaik yang telah dilakukan oleh seorang ibu tentunya kita tidak mau menjadi anak-anak yang zhalim kepadanya. Kita semua berharap terhindar dari kesulitan-kesulitan karena secuil kesalahan yang kita lakukan terhadap ibu kita sendiri. Seperti disebutkan dalam sebuah kisah, bagaimana seorang sahabat yang bernama al-Qomah mengalami kesulitan ketika sakaratul maut. Al-Qomah menghadapi masalah besar, seolah Malaikat mempermainkan nyawanya. Atas kejadian itu, Nabi Muhammad Saw kemudian memanggil ibunya agar ia mau datang menemui dan memaafkan kesalahan yang dilakukan al-Qomah. Setelah sang ibu menemui dan memaafkan, maka lancarlah kematian al-Qomah.
Tanpa kita sadari, seorang ibu sebenarnya sedang mempersiapkan kita semua untuk menjadi penerusnya. Menjadi pahlawan bagi anak-anak kita kelak. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan dan cita-cita besar itu. Menjadi pahlawan yang akan selalu dikenang. Mulailah dengan memohon maaf atas segala kesalahan kepada kedua orang tua kita, selanjutnya adalah menjaga agar ibu tetap selalu tersenyum.
Mengenang almarhumah Hj. Hafsah, setelah 11 tahun mendahului ke tujuh anaknya, seorang ibu yang luar biasa. Allahummaghfirlaha wa ‘afiha wa’fu ‘anha wa akrim nuzulaha wa wassi’ madkhalaha waj’ali al-jannata maswaha
Selasa, 08 November 2011
Pahlawan Itu Bernama Ibu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Komentar :
Posting Komentar